Untuk Keluarga dan Pembangunan Masjid

JawaPos.com – Bagi Abdul Malik, keluarga adalah segalanya. Merekalah yang berpengaruh besar dalam perjalanannya menekuni pencak silat. Keluarga pula yang selalu memotivasi dia untuk berprestasi.

Dan kepada keluargalah, Abdul Malik mendedikasikan semua yang diraihnya.

Tak terkecuali yang ia dapatkan dari keberhasilannya meraih medali emas Asian Games 2018. Berkat torehannya itu, Malik tidak hanya mendapatkan bonus Rp 1,5 miliar. Pesilat asal Bitung, Sulawesi Utara, itu juga memperoleh tambahan Rp 200 juta dari pemerintah tempat asalnya.

“Saya terlahir dari keluarga sederhana, otomatis pertama untuk keluargaku dulu,” kata Malik tentang rencana peruntukan bonus yang diperolehnya.

Malik memang terlahir dari keluarga sederhana. Bahkan bisa dibilang keluarga kurang mampu. Ayahnya seorang tukang tambal ban. Sedangkan sang ibu hanyalah ibu rumah tangga biasa. Dia memiliki sepuluh saudara dan merupakan anak pertama.

Sebagai anak sulung, tentu Malik ikut memikul tanggung jawab menghidupi keluarga. Dia pun sadar betul dengan posisinya itu. Malik pun selalu mengingat baik-baik nasihat kedua orang tuanya. Kepada Malik, mereka selalu mengatakan, kamu berjuang untuk keluarga dan berusaha yang terbaik.

“Mereka (orang tua) selalu mengingatkan untuk berdoa. Mereka juga bilang, kalau memang rezeki untuk kita, pasti tidak akan tertukar. Ingat keluarga dan adik-adik yang ada di sini,” ucap Malik menirukan nasihat orang tuanya.

Karena itu pula, begitu mendapatkan bonus miliaran rupiah, mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Manado tersebut langsung berpikir untuk membeli hunian yang layak bagi keluarganya. Selama ini keluarganya memang masih tinggal di rumah kontrakan.

Urusan rumah itu pun sudah beres. Namun yang dilakukan Malik tak lantas berhenti sampai di situ. Dia juga akan membangun usaha bagi kedua orang tuanya. Namun, hingga kini dia belum memiliki gambaran jenis usaha yang tepat sebagai mata pencarian orang tuanya. “Kami masih mendiskusikannya,” ujarnya.

Meski keluarga sebagai prioritas utama, pesilat yang lahir pada 31 Januari 1997 itu tetap tidak melupakan nazarnya: membantu membiayai pembangunan dua masjid dan satu musala di kampung halamannya. Mengenai nominal, dia belum bisa memastikan jumlahnya. Namun, Malik akan menunaikan janji itu.

Di luar urusan itu, Malik juga punya obsesi lain. “Saya ingin selesaikan dulu urusan di kampus,” ujarnya. Hal itu dilakukannya demi memuluskan jalan untuk menunjang tugasnya sebagai PNS nanti.

Kebetulan, selain bonus uang, pemerintah memberikan jaminan menjadi PNS bagi peraih medali emas Asian Games 2018. Malik pun akan mengambil tawaran tersebut. “Karena nggak tahu ke depan masih jadi atlet atau nggak,” sebutnya.

(feb/c9/fim)