Samsung Galaxy A9 Punya 4 Kamera Utama, Benar Berguna atau Cuma Gaya?

JawaPos.com – Samsung resmi memperkenalkan Galaxy A9 terbaru dengan empat kamera belakang sekaligus. Gebrakan Samsung tersebut tentu menjadikannya sebagai vendor pertama di dunia yang menghadirkan smartphone empat kamera utama.

Apa yang dilakukan Samsung mungkin akan mengubah tren smartphone setelahnya. Betapa tidak, banyak yang meyakini bahwa hadirnya kamera lebih dari satu, atau lebih dari dua sekaligus pada sektor penembak utama smartphone, dapat memberikan efek yang nyata.

Ya, apalagi kalau menyangkut kualitas gambar yang dihasilkan. Namun untuk Samsung Galaxy A9 dengan empat kamera utamanya, beneran berguna atau cuma gaya? Berikut JawaPos.com mencoba ulas lebih dalam.

Soal smartphone dengan lebih dari satu lensa utama sebelumnya berhasil dibuktikan kesuksesannya oleh Huawei. Dengan perangkat P20 Pro, Huawei menyematkan tiga buah kamera sekaligus pada bagian belakang sebagai kamera utama.

Huawei hingga kini masih memegang dapuk sebagai smartphone penghasil gambar terbaik. Laman pengujian kualitas DxOMark juga masih menempatkan Huawei P20 Pro di posisi teratas sebagai smartphone dengan kamera terbaik.

Terlepas dari Huawei dengan P20 Pro miliknya yang berhasil mencuri perhatian konsumen hingga vendor kompetitor, kini disusul Samsung Galaxy A9 dengan empat kamera utamanya.

Lantas seberapa perlu menghadirkan multiple camera pada sebuah perangkat smartphone? Jika dua saja cukup, mengapa harus tiga? Jika tiga cukup, mengapa harus empat? Begitu pertanyaan seterusnya.

Bicara smartphone dengan multiple camera, mengutip laman AndroidAuthority, Minggu (14/10), hadirnya kamera lebih dari satu atau seterusnya pada smartphone sebenarnya merupakan siasat untuk memasukan fungsi kamera profesional (konvensional) pada perangkat smartphone.

Kamera konvensional untuk para profesional dengan sensor megapiksel besar dengan banyak kemampuan hanya memiliki satu lensa, namun besar. Hal itulah yang tidak mungkin disematkan pada perangkat smartphone. Karenanya disiasati dengan memperbanyak jumlah kamera atau lensa.

Samsung Galaxy A9, Samsung 4 kamera utama, Samsung Galaxy A9 berguna atau gayaSamsung Galaxy A9. (CNet)

Adapun jumlah kamera tadi kemudian dibagi-bagi fungsinya. Mulai dari pendeteksi kedalaman penginderaan, jarak (tele dan wide) warna, dan fokus. Pada kamera konvensional, dengan bentuk yang selayaknya kamera, hal itu mungkin dibuat tanpa memikirkan aspek desain, dimensi, dan sisi ergonomis. Oleh karena itu, kamera konvensional cukup menggunakan satu lensa berukuran besar.

Namun lensa besar bak kamera konvensional tampaknya tidak berlaku pada sebuah smartphone. Sebagai siasat, para enginer mencanangkan lensa kecil dengan pembagian fungsi, sehingga kualitas gambar bisa setara dengan kamera konvensional. Dari sana kemudian lahir Huawei P20 Pro dengan tiga kamera utama dan Samsung Galaxy A9 dengan empat kamera utama.

Secara teoritis mungkin desain semacam itu agak sulit digunakan. Sebab, perangkat lunak harus lihai beralih di antara semua mode yang berbeda secara otomatis atau menyajikan array opsi yang rumit kepada pengguna.

Perangkat lunak yang bekerja keras pun mesti didukung perangkat komputasi yang mumpuni juga. Hadirnya banyak kamera, membuat smartphone agaknya memiliki jeroan yang mumpuni. Sementara jeroan mumpuni tentu menuntut harga tinggi. Jadi, pembuatan desain multiple camera semacam itu akan sangat mahal untuk tingkat kegunaan yang sangat dipertanyakan.

Pasalnya, setiap kamera sebagian besar akan berfungsi secara mandiri dan konsumen hampir tidak pernah menggunakan sejumlah mode secara keseluruhan. Baik itu wide, tele, kedalaman atau sebagainya. Hadirnya smartphone dengan multiple camera juga memunculkan keraguan serius tentang berapa banyak konsumen akan bersedia membayar untuk fitur seperti itu yang sebenarnya tidak perlu-perlu banget bagi konsumen.

Meski dilematis, hadirnya multiple camera pada perangkat smartphone dari sisi penggunaan atau praktis memang memberikan keuntungan. Huawei P20 Pro misalnya. Dia sudah menawarkan sekilas bagaimana beberapa kamera bekerja sama untuk menghasilkan beberapa hasil yang menarik.

Misalnya tentang teknologi Monokrom dan Zoom-Zoom Huawei. Pertama meningkatkan jangkauan dinamis dari pemotretan biasa dengan menggabungkan data dari RGB standar dan sensor hitam dan putih. Perangkat lunak Hybrid Zoom bahkan lebih ambisius menggabungkan data dari beberapa kamera untuk menghasilkan gambar beresolusi lebih tinggi untuk kualitas zoom yang lebih baik. Contohnya, lensa teleskop 8 MP P20 Pro justru menghasilkan gambar 10 MP pada tingkat zoom 3x dan 5x zoom.

Selain itu, berada lebih dahulu dari Huawei P20 Pro dan Samsung Galaxy A9, yakni smartphone dengan banyak kamera Light L16. Lebih radikal, smartphone tersebut malahan hadir dengan 16 kamera utama sekaligus. Hadrinya Light L16 dan Huawei P20 Pro akhirnya menjawab bahwa multiple camera pada smartphoe memang memberi impact resolusi tinggi dan fotografi fleksibel.

Light L16 asli bekerja dengan cara yang sama, meski dengan beberapa cermin periscopic agar sesuai dengan modul kamera yang disesuakan untuk mengejar desain tidak terlalu aneh. Kamera mengambil data dari beberapa modul 28 mm, 70 mm, dan 150 mm, tergantung pada tingkat zoom.

Hasil akhirnya adalah foto 52 MP besar yang terbentuk dari 10 perspektif yang berbeda, tersedia hingga 5x optical zoom. Bahkan, model konsep lebih baru yang dirancang Light untuk kinerja smartphone antara lima dan sembilan lensa. Hasilnya adalah pengaturan kamera yang mampu mengambil bidikan 64 megapiksel.

Meninggalkan Huawei dan Light L16, apa yang dilakukan Samsung agaknya memang mirip-mirip. Yakni sama-sama ingin memberikan hasil foto yang wah pada perangkat smartphone.

CEO Samsung DJ Koh bahkan berujar bahwa perangkat bikinan mereka memang menyasar para ‘Instagram Generation’. Itu artinya, Samsung Galaxy A9 dengan empat kamera utama memang ingin menjadi perangkat smartphone dengan penembak gambar yang andal.

Samsung Galaxy A9, Samsung 4 kamera utama, Samsung Galaxy A9 berguna atau gayaKemampuan kamera Samsung Galaxy A9. (AndroidCentral)

Pada intinya, ada benarnya bahwa smartphone dengan banyak lensa sebagai siasat menandingi kamera konvensional untuk urusan kualitas gambar. Begitu pun guna menghasilkan gambar resolusi tinggi dengan menggabungkan data dari beberapa lensa kamera. Tentunya ini melalui perhitungan yang rumit.

Jadi, jika ada pertanyaan ‘beneran berguna atau cuma gaya?’, jawabannya tentu keduanya bisa menjadi benar. Berguna karena bisa menghasilkan gambar yang lebih berkualitas meski harus melalui perhitungan rumit.

Sementara ‘cuma gaya’ karena setiap kamera sebagian besar akan berfungsi secara mandiri. Artinya, pengguna tidak pernah menggunakan sejumlah mode secara keseluruhan. Baik itu wide, tele, kedalaman atau sebagainya.

Hasil akhirnya tentu kembali kepada calon konsumen. Sebab, kebutuhan dan kegunaan idealnya ada di tangan mereka sendiri.

Seperti diberitakan sebelumnya, Samsung Galaxy A9 memiliki kemampuan lensa utama 24 MP (f/1.7), lensa telephoto 10 MP, 2x optical zoom (f/2.4), lensa ultra wide 8 MP (f/2.4) dengan jangkauan sudut pandang 120 derajat, dan lensa kedalaman gambar alias depth 5 MP (f/2.2) live focus. Tak ketinggalan ada sebuah kamera selfie di bagian depan dengan kemampuan 24 MP (f/2.0).

Samsung Galaxy A9 dilepas dengan jeroan bikinan Qualcomm, yakni Snapdragon 660. Pilihan RAM-nya yang terkecil hanya 6 GB, sedangkan yang tertinggi ada 8 GB. Untuk penyimpanan internal atau ROM-nya, hanya tersedia varian 128 GB saja. Jika belum cukup, pengguna nantinya masih bisa mengekspansi ruang simpannya dengan MicroSD hingga 512 GB.

(ryn/JPC)

Cara DAFTAR POKER Domino Qiu Qiu Capsa Susun Online Indonesia di Situs Agen Judi Terpercaya Assosiasi Resmi Dewapoker IDN Bank BCA, BNI, BRI dan Mandiri.